Nov 9, 2025
Derita ada
bukan karena peristiwa
tapi berpalingnya hatimu
dari Cahaya
semakin jauh
semakin luka itu menganga
menjadi haus
kering seketika
tapi bukanlah telaga yang kau sesap
melainkan air laut
semakin haus
bukan sebaliknya
Bukankah Cahaya itu telah memanggilmu
telah menyiapkanmu
dengan sepasang sayapnya
yang terbuat dari temaram matahari
siap merengkuhmu
dan memelukmu dalam bahagia
Tapi kenapa kau memilih merangkak
sementara kau tercipta
untuk mengangkasa
Sadarkah kau
dirimu bukanlah bumi
bukankah semua jiwa
adalah samawi?
Wahai jiwa jiwa yang renta
suka atau duka
kau akan kembali
Bukankah seseorang
Akan selalu merindukan kampung halamannya?
maka balutlah kerinduanmu itu
dengan dzikir
Juga istighfar mu
Serta sepenuh janji
untuk kembali
di jalan yang dijanjikan kemenangan
untukmu
Yang demikian itu
Lakukanlah dengan kesungguhan
meski berjuta purnama
kau telah lalai
dalam fana
selalu akan terbuka
jalan untuk kembali
sampai jiwa mu
dipanggil kembali
untuk pulang
bisa nanti
bisa besok
bisa juga
hari ini.
Douliu, 9 November 2025
Bayu B. Hapsoro
Nov 7, 2025
Lalu dalam hingar bingar kegelapan
Bagaimana kau bedakan cahaya dan bayangan?
Cukup perhatikan
Bagaimana bayang dunia
menutupi hatimu
dari Cahaya sebenarnya
Maka setiap penghalang
akan bertemunya hati dengan kenikmatan Cahaya abadi
maka sesungguhnya
dia adalah racun mematikan
serupa azab yang disegerakan
sungguh manis saat diminum
tapi melumpuhkan
menyayatmu dengan belati kematian
bahkan sebelum kau berkedip
dan menghela nafas terakhirmu
Hati yang tadinya bersinar
perlahan namun segera
akan mati dan tersia
dalam sepi dan kematian
bahkan sebelum sang maut hadir
untuk memupus semua mimpi dan angan angan
Tidak kah kau sadari
bagaimana cahaya
tidak akan pernah bertemu
dengan bayangnya sendiri
kecuali ada dunia diantaranya?
Maka begitulah
kenikmatan cahaya
tidak akan pernah bertemu
dengan nikmatnya gelap dunia
Di dalam keduanya ada nikmat
nikmat gelap
nikmat cahaya
tapi keduanya
tidak akan pernah bertemu
bahkan dalam gelap
hanya sementara
karena suatu masa
Allah akan buka semuanya
Semesta menjadi Cahaya
dan bagi para penikmat kegelapan
akan menyesal selamanya
Tapi bagi para penikmat Cahaya
dia akan bahagia
bahkan sebelum masa itu tiba
maka benarlah
Cahaya di atas cahaya*
Pilihan nikmat cahaya abadi itu
masih ada
dan pilihlah dengan segera
sebelum Izroil
menjalankan perintah Tuhannya
kepadamu.
*QS. An Nur: 35
Douliu, 7 November 2025
Bayu B. Hapsoro
Aug 21, 2020
Mudah sekali hati ini menjadi letih
Jika saja pujian makhluk yang kau harap
Seperti meneguk air samudra
Hausnya pun tak berkesudahan
Bahkan dengan segala upaya
Jika tepuk tangan dan keterpukauan makhluk
sudah menyelinap di relung hatimu yang terdalam
Tak kan kau temui sedikitpun kedamaian
Melainkan hanya gelisah yang jadi kian parah
Tak hanya itu
Duka pun akan mulai gerogoti nurani halusmu
tatkala ternyata
Makhluk makhluk hina itu
Tak hargai usaha dan jerih mu
yang sejujurnya sungguh sangat payah itu
Ingatlah
bukankah banyak pesohor langit
yang tak di kenal banyak penghuni bumi?
Tapi terompahnya pun justru sudah terdengar lantang
di seluruh penjuru Surga
sementara telapak kakinya jelas masih menjejak Sahara
Sementara lihatlah nasib mu itu
Setidak jelas nasib telur di ujung tanduk hewan yang terluka
Mengais menjejak tanah dengan sia sia
di tepi sebuah jurang yang nyaris tak terlihat dasarnya
pada ujung nafas terakhirnya
Kelupas perih dan pedih
Kini menjadi bagian tak terpisah
karena keenggananmu berlepas dari puja puji dunia
Dan juga ketika sombong dan takabur mulai bersemai di hati lemah mu
Maka tak ada siksa yang paling perih
Melainkan siksa jauhnya hati mu
Dari Tuhan Sang Maha Dekat
Tatkala mulai terombang ambing kelezatan dunia
Maka keruhnya hati mu
Akan selalu memperdayamu
kepada kilau fana yang pasti musnah
Dan pasti punah
Maka masihkah engkau jumawa
pada segenggam titipan yg bukan milikmu?
Maka dalam setiap degub yg selalu berdenting
di dalam denyut jantung
yang selalu kau lalui dengan lalai itu
Di dalam lubuk terdalam mu
kau tahu betul
Bahwa semua detik akan terhenti
Dan semua nafas akan mengeluarkan hembus terakhirnya
Pun sepi nya barzah
siapa lagi yang kan menemani mu
Kecuali amal baik mu
Ilmu mu yang bermanfaat
serta doa anak anakmu yang shalih*
Maka akankah kau tuai, apa yang tak pernah kau tanam?
Dalam henti sang waktu
Semua akan terdiam
Karena Sang Raja Sejati
Akan menentukan arah hidup abadimu
Apakah bahagia?
Ataukah derita?
Lalu semua tak ada yang tersia
Tak kan ada dusta
Hanya Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir
Menggelegar mengguncang jagad semesta raya
Karena dalam Istana Cinta yang terbuat dari cahaya
Segala kelezatan akan dibuka
Syahdan harta para raja dunia pun
bak mainan tak berharga di sisiNya
Hanya jiwa gembira
Yang mendapatkan segala yang telah dijanjikan Rabb nya
Dan ketika ditanya
berapa lama duka mereka selama hidup di dunia
Maka mereka akan menjawab
Seperti satu atau dua hari saja
Itu kata mereka
Sementara itu
di sisi gelap satunya
Hanya terbakar kehinaan
sesal selamanya
Tak berguna
Lalu tanyakan pada dirimu
Pada di sisi Tuhan mu yang manakah, kau akan berada?
*Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan doa anak yang saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631)
Semarang, 21 Agustus 2020
Bayu B. Hapsoro
Dec 6, 2019
Setiap episode kehidupan
selalu memunculkan bebannya masing masing
Meski selalu ada perkecualian
dan sisi itu bernama
Jiwa yang sedang jatuh cinta
Maka bagi dia yang tengah mencintai
baginya pengorbanan adalah keniscayaan
Tak ada secuilpun rasa berkorban
atau beban di hatinya
meski itu adalah raga
bahkan jiwa nya sekalipun
Lalu
cintai lah sejatuh jatuhnya
Tapi janganlah pada fana
melainkan pada keabadian
Namun malangnya
kadang nenek tua yang bernama Dunia itu
bersolek sedemikian rupa
sampai berjuta lisan menyanjungnya
berjuta raga memujanya
seolah dialah keabadian
seolah dia lah sumber bahagia
Pun akherat
akan selalu menunjukkan jalannya
bagi para Salik yang tunduk
dan takzim mengikuti petunjuk sang Mursyid
Karena jalan terang itu, selalu ada
meski tak selalu terlihat, bagi mereka yang memiliki mata
Dan tak selalu terdengar, bagi mereka yang memiliki telinga
Entah kau paham atau tidak
sungguh bukan urusan yang sedang aku risaukan
Aku hanya sedang berbicang
pada diriku sendiri
Karena ini adalah sebuah catatan kecil
untuk diriku
di masa depan.
Semarang, 6 Desember 2019
Bayu B. Hapsoro
Feb 25, 2014
Ketika suatu saat kau tanyakan
Kepada entah siapa kau bertanya
Mengapa Tuhan perintahkan titah-Nya pada manusia
Maka
Kan kau temui Cinta
Sebagaimana sapa mesra Tuhanmu
saat pertama dia bertutur kepada Muhammad Ar Rosul
Bacalah
Dengan nama Tuhanmu yang mencipta(1)
Ucapan yang begitu santun terasa
Indah dan begitu mempesona
Padahal Dia Maha Perkasa
Dialah jua yang Maha Mengetahui(2)
Tapi mengapa santun yang tercipta dari kata
Karena Dia cinta
Karena Dia sayang(3)
Dan tersebutlah jua pada salah satu kata-kata pertama kenabian
“BismillaahirRohmaanirRohiim”(4)
Dengan nama Robb-mu
Yang Maha Pengasih
Yang Maha Penyayang
Betapa Agung-Nya pun Dia sampaikan
Dengan lembut dan penuh cinta
Tidakkah kau rasakan itu?
Lalu mengapa kau yang lemah
Masih menjadi terlalu angkuh?
Lalu ketika kau tanya lagi
Mengapa manusia begitu cinta pada dunia
Kan kau temui
Mereka tak tahu yang sebenarnya(5)
Dan ketika pula kau tanya
Mengapa kau tak cinta kepada Tuhan
Kekasih sejatimu yang penuh cinta?
Kan kau temui dalam hatimu
Bahwa kau pun belum mengerti yang sesungguhnya
Tuhan Maha Lembut
Karena memang itulah cinta
Tuhan Maha Kasih
Karena memang itulah sayang
Takkan Dia biarkan yang dicintainya terkubur dalam bahaya
Bahkan Dia takkan rela sedikitpun yang dicintai-Nya
Menjadi terluka
Karena itu Dia turunkan Al Quran kepada kita
Meski kadang terasa perih
Tapi bukankah itupun karena kita lena dari mengingat cinta-Nya?
Segala titah-Nya adalah cinta
Bukan pura-pura
Atau kebusukan yang sering dan selalu dihembuskan oleh para manusia pendusta(6)
dan yang selalu menghamba pada nafsu dan ambisinya(7)
Tapi cinta yang utuh
Tinggal apakah kan kau percayai
Ataukah kan kau dustai semua cinta-Nya padamu?
Rengkuhan cinta-Nya itulah yang kan mengangkatmu
Terbang jauh ke langit ketujuh-Nya
Tiada kau kan resahkan dunia
Tiada kau kan gelisahkan fana
Karena Dia telah janjikan
Dalam untaian sabda-Nya yang agung
Takkan ada khawatir bagimu dan tidak pula kesedihan
Jika kau turuti perintah-Ku(8)
Itulah bukti cinta
Yang kan kau temukan kedamaian, ketentraman, dan kesejukan di dalamnya(9)
Bukti apalagi yang kau inginkan?
Percayalah
atau kan kau dapati hatimu selalu gundah dalam resahnya dunia
kepada siapa lagi kau kan percaya?
bukankah seringkali hawa nafsu telah menjebakmu
dan selalu meninggalkanmu dalam penyesalan?
Tapi mengapa masih saja kau percaya padanya
Yakinlah pada kekasih yang selalu mencintaimu
bila kaupun berusaha mencintai-Nya
Menunggumu dengan setia
Detik- detik kepulanganmu pada pelukan mesra-Nya
Karena
Segenap rasa kan kau cinta
Al Quranul Kariim:
1.Qs. Al Alaq 96:1
2.Qs. Al An-Am 6:96
3.Qs. Asy-Syuara 26:9
4.Qs. Al Fatihah 1:1
5.Qs. Al Ankabut 29:64
6.Qs. Al Baqoroh 2:9
7.Qs. Al Furqon 25:43
8.Qs. Al Baqoroh 2:38
9.Qs. At Taubah 9: 15
Semarang, 25 Feb 2014
Bayu B. Hapsoro
Feb 25, 2014
Wahai engkau jiwa yang sedang gundah
Seperti candu yang menawarkan racun terindah
Begitu menggoda untuk mereguk bibir perawan yang dirindu
Dan gejolak jiwa rendah yang makin menggila
Membuat comberan laksana susu telaga kautsar
Seindah pandangan yang selalu terlihat abadi
Meski tak lebih sekejap nafas akan berlalu
Lalu pada kemunafikan yang begitu subur ada pada hatimu
Bukankah merasa terpandang di mata makhluk
Menjadi lebih indah dibanding pandangan Tuhan?
Lalu mulailah engkau berjalan
Tertatih terluka tergores dalam duka
Seperti elang yang sayapnya terluka
Tiada mampu terbang tanpa sepasang sayapnya
Bukankah begitu nasib yang tertakdir pada manusia
Ketika dalam sendiri
Terlukalah dia
Bukankah diperlukan sepasang sayap
Untuk bisa terbang dalam menggapai cintaNya?
Lalu dalam kesendirianmu
Dan perasaanmu yang kau perturutkan
Lihatlah siapa dirimu
Demikian pula sekelilingmu
Sudahkah kini kau penuhi permintaan Kekasih abadimu?
Yang selalu berbisik merdu dalam surat cinta keabadian
Seperti zamrud yang berbicara dalam hijaunya kehidupan
Dan laki laki yang baik untuk perempuan yang baik*
Itulah butiran cinta yang terpancar di dalam surat cinta dari Tuhan
Penuhi saja janjimu pada langit
Pasti Sang Cinta
akan menghujanimu dengan keberkahan dan ketenangan
Maka dengan dirimu yang masih abaikan perintah dan larangan Tuhanmu
Dan kesyukuran yang selalu engkau acuhkan
Serta kesabaran yang selalu engkau hinakan
Masih sudikah sayap Cinta Nya
akan memelukmu dalam bahagia?
*QS. An Nur: 26
Semarang, 25 Feb 2014
Bayu B. Hapsoro
Nov 26, 2010
Bagiku
kerinduan adalah cinta yang tak terhembuskan oleh nafas
kepada Sang Kekasih
Maka bagi dirimu yang mengaku pecinta
tapi tanpa kerinduan
layakkah dirimu
kau sebut sebagai jiwa yang sedang jatuh cinta?
Semarang, 26 November 2010
Bayu B. Hapsoro
Jan 5, 2007
Pada keadaan kita yang sekarang
Pada diam kita yang tak berbuat apa – apa
Pada kerja keras kita yang sekadarnya
Pada kemalasan pikiran kita
Pada keengganan kita untuk berubah menjadi lebih baik
Pada terpakunya kita oleh angan – angan jika dan apabila
Pada kekosongan jasad, hati, dan pikiran kita terhadap amal yang terbaik
Pada berjuta alasan yang kita punya untuk membuang waktu yang sangat berharga
Pada janji palsu yang terus kita langgar
Pada omong kosong yang selalu kita dendangkan
Pada kebusukan kata yang selalu kita lontarkan
Pada maksiat yang terus kita kerjakan
Pada amanah yang kita selalu berlepas tangan
Pada mata kita yang selalu liar dalam memandang
Pada ghibah yang selalu saja kita kerjakan
Pada lisan yang tak pernah kita jaga
Pada telinga kita yang selalu rindu mendengar aib orang lain
Pada komitmen yang tidak pernah kita punya
Pada orang lain serta hal – hal kecil lainnya yang selalu kita remehkan
Pada keputus asaan yang selalu kita kedepankan
Pada ruh kesombongan yang selalu rajin kita pelihara
Pada keagungan Alloh yang selalu kita kerdil-kan
Pada amal yang lebih kita agungkan daripada keputusan Sang Maha Perkasa
Pada shodaqoh kita yang sekadarnya
Pada istighfar yang sangat jarang kita lantunkan
Pada hamdallah yang selalu saja berat kita ucapkan dengan tulus
Pada sholat wajib yang tak kita hiraukan
Pada puasa sunnah yang rutin kita abaikan
Pada sajadah malam yang selalu saja kita singkirkan
Lalu dengan engkau dan semua kebuntuan masalah mu
Maka bukankah itu semua kewajaran yang ada pada dirimu?
Semarang, 5 Januari 2007
Bayu B. Hapsoro